Welcome to Blog na tu GOWA...*** Dikelola jurnalis Gowa, orang Gowa, dan mereka yang peduli terhadap Gowa ***Kami menerima tulisan/opini/artikel/saran/kritik/kritik tentang GOWA, karena Gowanu, Gowaku, Gowata. Kami berhak tidak menerbitkan tulisan dengan berbagai pertimbangan. Terima Kasih *** Kirimkan tulisan/artikel/opini ke tugowa.news@gmail.com
CARA MENDAPATKAN UANG GRATIS
Perasaan anda ketika melihat judul di atas, sama dengan yang saya rasakan pertama kali mendengar dan melihat PTC (Paid to Click) atau mendapatkan uang dari Online di Internet. Tapi ketika saya mencoba atas anjuran teman ternyata bener… dapat uang sungguhan.
Saya akan berbagi caranya agar anda dapat mencobanya sendiri sehingga anda dapat membuktikannya, lagian gak rugi nyobak, soalnya GRATIS. Bagi anda yang belum daftar cukup klik Gambar IDR-CLICKIT di atas.
untuk mendaftar juga bisa ikuti link: http://www.idr-clickit.com/register.php/uttha.html
(lihat bukti pembayarannya: http://www.nugie.web.id/tag/idr-clickit)
12/21/2009 08:28:00 PM

Perlu waspadai Longsoran Bawakaraeng

Diposkan oleh tuGOWA


Sungguminasa, Tribun - Longsoran Gunung Bawakaraeng yang terjadi tahun 2004 lalu masih perlu mendapat perhatian saat musim hujan tiba. Hasil pengamatan dan survei detail Konsultan Yachio Engineering menyatakan Gunung Bawakaraeng masih memiliki tingkat potential collapse sekitar 115 juta meter kubik.
Pemimpin Pelaksana Kegiatan (PPK) Pengendalian Sedimen Bawakaraeng Direktorat Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan-Jeneberang (BBWSPJ) Haeruddin mengatakan, dari 115 juta meter kubik potensial collapse itu, 22 juta meter kubik di antaranya termasuk dalam kategori level satu atau patut diwaspadai.
Sebab sewaktu-waktu bisa saja runtuh apalagi di musim hujan seperti ini. Untuk itu, selama musim hujan ini pihaknya meningkatkan intensitas pemantauan," katanya saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (20/12).
Ia mengimbau masyarakat yang tinggal dekat aliran Sungai Jeneberang, khususnya di Kecamatan Parigi agar meningkat kewaspadaan.
Robohnya dinding kaldera Gunung Bawakaraeng tahun 2004 lalu, katanya, salah satu yang terbesar di dunia sehingga masih patut diwaspadai karena masih menjadi ancaman. Longsoran itu sekitar 200-250 juta meter kubik.
Melihat jumlah sedimen yang terus bergerak dan bahaya sedimen yang sewaktu-waktu bisa datang, jelas Haeruddin, sebenarnya Gunung Bawakaraeng jauh lebih serius daripada Gunung Merapi yang setiap letusan hanya diprediksi sekitar 10 juta meter kubik.

Langkah Antisipasi
Pihak BBWSPJ, kata Haeruddin, sudah mengantisipasi dengan membangun tujuh buah sabodam termasuk dua sabo seri di atas bangunan sabodam 72 dan 73. Kemudian, satu sabo multipurpose yang juga berfungsi sebagai jembatan, plus dua bangunan groundsill di Sungai Daraha yang ada Kecamatan Parigi.
Di bagian hilir dibangun empat consolodation DAM (CD) jembatan penyeberangan sebagai akses masyarakat yang bermukim pada beberapa desa di sebelah kiri Sungai Jeneberang, tiga jembatan evakuasi, serta pembangunan Jembatan Daraha yang akan rampung Desember ini.
"Secara struktur kita lebih siap tahun ini, karena sudah hampir semua bangunan kita selesaikan untuk tahap most urgen work. Sehingga palung Sungai Jeneberang sedikit lebih normal kondisinya," ungkap Haeruddin.(ute)

Perlu diwaspadai
- Curah hujan tinggi pada Januari-Februari
- Rawan longsor di daerah dataran tinggi
- Potensi pergerakan longsor Gunung Bawakaraeng patut diwaspadai

Januari-Februari Hujan Curah Tertinggi
SEBELUMNYA diberitakan, puncak curah hujan tertinggi terjadi antara Januari dan Februari mendatang. Curah hujan, khususnya di dataran tinggi bisa mencapai 700 mm. Potensi hujan tersebut bisa menimbulkan longsoran.
Kepala Seksi Data dan Informasi Bandara Sultan Hasanuddin Hanafi Hamzah mengatakan, curah hujan yang bisa mencapai 700 mm bisa menimbulkan kerentanan untuk terjadinya bencana tanah longsor.
Menurutnya, Gowa memiliki tektur tanah yang tidak rata, terdiri atas perbukitan dan dataran rendah, sehingga sangat rentan terjadinya bencana tanah longsor. Tingginya curah hujan memacu terjadinya perubahan pada pori-pori tanah hingga pada titik jenuh, labil, dan akhirnya merembes dan bisa menimbulkan longsoran di areal perbukitan.(ute)


0 komentar: