Welcome to Blog na tu GOWA...*** Dikelola jurnalis Gowa, orang Gowa, dan mereka yang peduli terhadap Gowa ***Kami menerima tulisan/opini/artikel/saran/kritik/kritik tentang GOWA, karena Gowanu, Gowaku, Gowata. Kami berhak tidak menerbitkan tulisan dengan berbagai pertimbangan. Terima Kasih *** Kirimkan tulisan/artikel/opini ke tugowa.news@gmail.com
CARA MENDAPATKAN UANG GRATIS
Perasaan anda ketika melihat judul di atas, sama dengan yang saya rasakan pertama kali mendengar dan melihat PTC (Paid to Click) atau mendapatkan uang dari Online di Internet. Tapi ketika saya mencoba atas anjuran teman ternyata bener… dapat uang sungguhan.
Saya akan berbagi caranya agar anda dapat mencobanya sendiri sehingga anda dapat membuktikannya, lagian gak rugi nyobak, soalnya GRATIS. Bagi anda yang belum daftar cukup klik Gambar IDR-CLICKIT di atas.
untuk mendaftar juga bisa ikuti link: http://www.idr-clickit.com/register.php/uttha.html
(lihat bukti pembayarannya: http://www.nugie.web.id/tag/idr-clickit)
1/13/2010 08:40:00 PM

Kaldera Dirancang Jadi Wisata Alam

Diposkan oleh tuGOWA

LONGSOR dinding Gunung Bawakaraeng tahuan 2004 lalu memang menjadi salah satu perhatian dunia internasional. Jatuhnya sekitar 300-an juta kubik sedimen menjadi salah satu yang peristiwa longsoran terbesar di muka bumi ini.
Bahkan, masalah longoran Gunung Bawakaraeng ini pernah dibicarakan dalam pertemuan internasional Asia Pacific International Symposium for Sedimen Disaster di University of Tokyo, Jepang, akhir tahun lalu.
Masalah ini dibawa PPK Sedimen Bawakaraeng Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan-Jeneberang, Haeruddin C Maddi, ke forum tersebut. Di bawah pengawasan Haeruddin, kini bangunan penahan sedimen hingga pusat kaldera di Kampung Lengkese didesain menjadi obyek wisata.
Perjalanan rombongan tim teknis Indonesia dan Jepang bersama wartawan meninjau lokasi pembangunan bangunan penahanan sedimen, Sabtu (9/1) lalu, juga berkesempatan melihat beberapa bangunan sedimen.
Namun, hujan deras yang turun di lokasi sedikit mengganggu sehingga rombongan tidak sempat meninjau secara langsung kaldera di Lengkese. Wisata alam kawasan longsoran ini dijadwalkan bisa dinikmati Maret mendatang.
Peninjauan di sabo dam 7-1 sudah meperlihatkan keindahan alam sedimen Bawakaraeng. Menurut Haeruddin, sekitar tiga juta kubik sedimen dikendalikan di sabo dam itu. Ini merupakan kantong air plus sedimen yang sewaktu-waktu bisa meluncur ke dataran rendah.
Pihak rekanan pun melengkapi kegelisahan para pekerja maupun masyarakat sekitar Manimbahoi dengan sejumlah alat pendeteksi bencana yakni vibrator cencor system.
"Kalau ada bunyi, maka kondisinya akan terdeteksi alat pendeteksi banjir debris. Saat ini untuk menyampaikan manual via radio," jelas Haeruddin.
Di sabo dam 7-4, rombongan melihat pemandangan yang membuat bulu kuduk merinding. Batu cadas berdiameter hingga dua meter berada di atas river crossing. Material cadas ini terhempas ke permukaan setelah terseret arus lumpur dari hulu.
Kendati bangunan pelimpah ini kokoh ditempeli batu khusus atau selektif stone material, namun gerusan sedimen tetap saja ada. Batu cadas yang dipilih khusus juga terangkat.
Usai melihat sabo dam 7-4, peninjauan beralih ke sabo dam 7-5 dan 7-6. Menuju sabo 7-5 yang jaraknya sekitar 700 meter ini, rombongan menempuhnya dengan jalan mendaki. Ditambah lagi hujan deras mengguyur saat rombongan sudah setengah jalan.
Meski begitu, tim teknis dari Jepang masing-masing Mr Maybath, Mr Takeki Khan, Mr Goto juga Mr Masunaga dan Mizuno, Husaeni serta Arif Nuradi tetap larut dengan pembicaraannya seputar kondisi tiap sabo dam.(muhtar muis)


0 komentar: