Welcome to Blog na tu GOWA...*** Dikelola jurnalis Gowa, orang Gowa, dan mereka yang peduli terhadap Gowa ***Kami menerima tulisan/opini/artikel/saran/kritik/kritik tentang GOWA, karena Gowanu, Gowaku, Gowata. Kami berhak tidak menerbitkan tulisan dengan berbagai pertimbangan. Terima Kasih *** Kirimkan tulisan/artikel/opini ke tugowa.news@gmail.com
CARA MENDAPATKAN UANG GRATIS
Perasaan anda ketika melihat judul di atas, sama dengan yang saya rasakan pertama kali mendengar dan melihat PTC (Paid to Click) atau mendapatkan uang dari Online di Internet. Tapi ketika saya mencoba atas anjuran teman ternyata bener… dapat uang sungguhan.
Saya akan berbagi caranya agar anda dapat mencobanya sendiri sehingga anda dapat membuktikannya, lagian gak rugi nyobak, soalnya GRATIS. Bagi anda yang belum daftar cukup klik Gambar IDR-CLICKIT di atas.
untuk mendaftar juga bisa ikuti link: http://www.idr-clickit.com/register.php/uttha.html
(lihat bukti pembayarannya: http://www.nugie.web.id/tag/idr-clickit)
12/10/2008 01:14:00 AM

Accera Kalompoang

Diposting oleh tuGOWA


UPACARA ritual tahunan yang telah berlangsung sejak pemerintahan Raja Gowa ke 14 Sultan Alauddin, Raja Gowa yang pertama kali memeluk agama Islam, accera kalompoang, kembali digelar di Museum Balla Lompoa, Sungguminasa, untuk tahun 1429 Hijriah.
Puncak ritual yang menjadi hajatan keluarga besar keturunan raja-raja Gowa yang tergabung dalam Salokoa ri Gowa bekerja sama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa ini berlangsung sakral, 10 Dzulhijjah 1429 Hijriah.
Ratusan pengunjung, baik keluarga raja-raja Gowa, pejabat, maupun masyarakat umum, membanjiri tempat ritual itu. Pelaksanaan kali ini lebih sederhana dibanding tahun lalu karena jamuan dan prosesi sakral dipisah tempatkan.
Puncak ritual accera kalompoang kemarin berupa allangiri kalompoang (pencucian mahkota) turut dihadiri Sekretaris Provinsi Sulsel Andi Tjonneng Mallombasang, Ketua DPRD Gowa Mallingkai Maknun, ketua majelis pemangku adat kerajaan Gowa Andi Makmun Bau Tayang, dan sejumlah pejabat di daerah ini.
Upacara adat pencucian benda-benda pusaka Kerajaan Gowa atau accera kalompoang dilaksanakan keluarga keturunan raja-raja Gowa, Salokoa ri Gowa, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Gowa. Setiap tahunnya ritual ini berlangsung selama dua hari.
Kegiatan ini selalu dilakukan menjelang dan pada hari Idul Adha. Tahun 1426 Hijriah prosesi awal accera kalompoang berlangsung pada hari Senin (9/1) di Balla Lompoa, Sungguminasa.
Diawali dengan prosesi pengambilan air bertuah dari sumur bertuah (bungun lompoa) yang terletak di kompleks makam Sultan Hasanuddin, sekitar 500 meter dari Balla Lompoa. Prosesi ini dinamakan allekka je'ne.
Usai prosesi itu dan air bertuah sudah ada di Balla Lompa, ritual dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban atau ammolong tedong. Penyembelihan ini salah satu tujuannya untuk mengambil sebagian darah hewan kurban berupa kerbau sebagai bahan upacara puncak.
Malamnya, dilanjutkan dengan upacara appidalleki atau melakukan persembahan sesajen kepada leluhur. Acara berlangsung saat posisi matahari kembali ke paraduannya (magrib), sesudah salat isya, dan saat takbiran. Upacara ini khusus dihadiri keluarga raja.
Puncak Pencucian
Puncaknya dilaksanakan kemarin, Selasa (10/1). Sedikitnya 15 jenis benda-benda pusaka kerajaan Gowa yang tersimpan di Balla Lompoa dicuci menggunakan air bertuah yang telah diambil sehari sebelumnya. Proses ini bernama allangiri kalompoang.
Air bertuah yang telah diambil beserta darah kerbau dan sesajen lainnya diletakkan di atas panggung allangiri. Kemudian pencuci benda pusaka itu yang berjumlah tujuh orang dan dipimpin langsung Andi Manginruru Patta Emba, putra raja Gowa terakhir.
Satu per satu benda-benda pusaka kerajaan dikeluarkan dari bilik kalompoang (kamar penyimpanan). Kemudian selanjutnya dilakukan pencucian dengan asap dupa dan air sumur bungun lompoa.
Pencucian dimulai dengan membersihkan salokoa atau mahkota raja. Konon, mahkota itu terbuat dari emas murni seberat 1.768 gram dan ditaburi sekitar 250 permata. Berturut-turut benda-benda pusaka lainnya seperti sundanga (senjata sejenis parang), ponto janga-jangaya (gelang emas berbentuk naga), dan sebagainya.
Upacara diakhiri dengan prosesi attitele atau pelepasan hajat oleh pelaksana ritual ini. Pelepasan hajat diwakili oleh tiga orang keturunan raja Gowa yang menjadi pelaksana. Attitele ditandai dengan pengambilan darah kerbau untuk dibubuhi pada salokoa, sudanga, dan ponto janga-jangaya.
Ritual ini ditutup dengan pemeriksaan benda-benda pusaka oleh pemangku adat Andi Makmun Bau Tayang Karaengta Bontolangkasa dan Bupati Ichsan.
Sejarah
Pelaksanaan accera kalompoang pertama kali dilaksanakan oleh Raja Gowa XIV (1593- 1639), I Manngerrangngi Daeng Manrabbiya Karaeng Lakiung Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna. Sultan Alauddin adalah raja pertama yang memeluk agama Islam dan mempermaklumkan agama Islam sebagai agama Kerajaan Gowa.
Kemudian Raja Gowa XV (1639-1653) I Mannuntungi Daeng Mattola Kareng Ujung Sultan Malikul Said Tumenanga ri Papang Batuna memonumentalkan pelaksanaan accera kalompoang setiap tanggal 10 Dzulhijjah atau setelah salat Idul Adha.
Lalu upacara ritual ini ditata pelaksanaan dengan bernapaskan Islam dan melakukan pemotongan hewan kurban adalah Raja Gowa XVI (1653-1669) I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomanggape Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Balla Pangkana.
Seterusnya, upacara pencucian dan pemeriksaan pusaka Kerajaan Gowa itu terlaksana pada raja-raja berikutnya hingga saat ini.(muhtar"ute"muis/tribun-timur.com)

Pusaka Dibersihkan
- Salokoa (mahkota raja)
- Sudanga (senjata sejenis parang)
- Pannyanggaya (tombak)
- Lasippo (parang)
- Tatarapang (sejenis keris emas)
- Ponto janga-jangaya (gelang)
- Kolara (rantai)
- Bangkarak Ta'roe (seperti anting-anting)
- Kancing gaukang (kancing dari emas)
- Tobo Kaluku (sejenis emas, perlengkapan upacara kerajaan)
- Mata tombak
- Cincin gaukang (cincin dari emas murni)
- Berang manurung (sejening parang panjang)
- Penning emas (pemberian Kerajaan Inggris)
- Medali emas

0 komentar: