Sungguminasa, Tribun - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) bertekad menjadi provinsi pertama yang melakukan ekspor beras ke luar negeri di tahun 2009 ini. Sulsel telah mendapat izin dari pemerintah pusat untuk mengekspor hingga 100 ribu ton.
Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang mengungkapkan hal tersebut saat memberikan sambutan pada panen perdana padi sistem Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO) di Kelurahan Bontoramba, Kecamatan Somba Opu, Kamis (2/4).
Agus menjelaskan, program over stok beras dua juta ton per tahun saat ini menjadi Sulsel barometer keberhasilan pembangunan nasional di sektor pertanian dan pemsok utama beras nasional.
"Bahkan tidak bisa dipungkiri beras dari Sulsel telah sampai di Filipina, Brunai Darussalam, Malaysia, hingga Timor Leste melalui jalur intraselluler," jelasnya.
Kondisi tersebut, ungkap Agus, didung dengan ditunjuknya Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, sebagai salah satu dari tiga pelabuhan eskportir beras di Indonesia. Pelabuhan lainnya yakni Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta dan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, Jawa Timur.
Potensi lahan sawah di Sulsel mencapai 587 ribu hektare dan luas area panen mencapai 860 ribu hektare. Sehingga jika program IPAT-BO dikembangkan yang mampu menghasilkan minimal tujuh ton gabah kering panen (GKP) dikonversi menjadi 5,6 gabah kering giling (GKG) dan 3,9 ton beras per ha, maka Sulsel diyakini mampu menghasilkan tiga juta ton produksi beras.
"Artinya, kita akan surplus dua juta ton. Sekarang penduduk Sulsel delapan juta jiwa dengan tingkat konsumsi 120 kilogram per kapita atau 960 ribu ton beras setahun," urainya.
Karenanya Agus berharap, teknologi IPAT-BO mampu berjalan optimal, sebab merupakan teknologi produksi yang hemat air, hemat pupuk anorganik (50 persen), hemat bibit (70 persen), hemat pestisida, dan produktivitas tinggi (8-15 ton/ha).
Sementara itu, Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo menuturkan, sasaran produksi padi Gowa dalam gerakan surplus beras 2 juta ton adalah 317.817 ton GKG dengan luas panen 52.210 ha atau produktivitas 60,87 kwintal per ha.
"Angka ini bisa dicapai karena dari beberapa hasil ubinan IPAT BO biotech produksinya rata-rata di atas tujuh ton GKP per hektare," jelasnya.(ute/tribun-timur.com)
Negara-Negara dengan Akses Uranium Terbesar: Siapa yang Menguasai Energi
Dunia?
-
Kazakhstan, Kanada, dan Namibia mendominasi produksi uranium global,
sementara Australia memiliki cadangan terbesar di dunia.
5 jam yang lalu







0 komentar:
Posting Komentar