Welcome to Blog na tu GOWA...*** Dikelola jurnalis Gowa, orang Gowa, dan mereka yang peduli terhadap Gowa ***Kami menerima tulisan/opini/artikel/saran/kritik/kritik tentang GOWA, karena Gowanu, Gowaku, Gowata. Kami berhak tidak menerbitkan tulisan dengan berbagai pertimbangan. Terima Kasih *** Kirimkan tulisan/artikel/opini ke tugowa.news@gmail.com
CARA MENDAPATKAN UANG GRATIS
Perasaan anda ketika melihat judul di atas, sama dengan yang saya rasakan pertama kali mendengar dan melihat PTC (Paid to Click) atau mendapatkan uang dari Online di Internet. Tapi ketika saya mencoba atas anjuran teman ternyata bener… dapat uang sungguhan.
Saya akan berbagi caranya agar anda dapat mencobanya sendiri sehingga anda dapat membuktikannya, lagian gak rugi nyobak, soalnya GRATIS. Bagi anda yang belum daftar cukup klik Gambar IDR-CLICKIT di atas.
untuk mendaftar juga bisa ikuti link: http://www.idr-clickit.com/register.php/uttha.html
(lihat bukti pembayarannya: http://www.nugie.web.id/tag/idr-clickit)
2/11/2010 08:12:00 AM

Rudenim Bolangi, Gowa, mendadak

Diposkan oleh tuGOWA

SUNGGUMINASA -- Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Bolangi, Gowa, mendadak heboh. Penyebabnya, 30 imigran asal Afghanistan dari total 82 "penghuni" Rudenim tersebut, tidak ada lagi di tempatnya alias kabur. Mereka yang ditahan sejak empat bulan lalu itu diduga melarikan diri antara pukul 24.00 hingga 05.30 Wita, Selasa 9 Februari.
Kepala Kantor Rudenim Gowa, Aksom Efendi menjelaskan, kaburnya ke-30 tahanan asal Afghanistan baru diketahui saat petugas melakukan patroli sebelum pergantian shift pada pukul 05.30 Wita. Saat itu, ungkap Aksom, salah seorang petugas patroli melihat kain seprei yang dipilin terjuntai di bibir jendela tahanan.
Setelah diperiksa, ternyata 30 tahanan sudah tidak ada di kamarnya. "Mereka kabur lewat jendela setelah menggergaji jeruji (terali) besi pengaman," ungkap Aksom.
Di Rudenim Bolangi Gowa yang terletak di Desa Timbuseng Kecamatan Pattalasang tersebut, penjagaan dilakukan secara bergantian dalam tiga shift. Setiap shift beranggotakan tiga orang. Di luar itu, masih ada empat orang pengawas yang bertugas secara reguler.
Aksom menjelaskan, dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), diduga para tahanan asal Afghanistan itu sudah memulai usahanya melarikan diri sejak Minggu malam, 7 Februari lalu. Saat itu, di Rudenim Bolangi memang berlangsung ritual perayaan wafatnya Imam Husaeni, salah satu tokoh Syiah.

"Mereka rupanya memanfaatkan situasi yang lagi ramai dengan merusak terali ventilasi berukuran 120 sentimeter. Kita memang memberikan keleluasaan pada mereka untuk merayakan peringatan wafatnya Imam Husaeni hingga pukul 23.00 Wita," ungkap Aksom.

Dia menduga, suasana yang ribut tersebut membuat para pengawas tahanan tidak mendengar gesekan gergaji dari kamar tahanan. "Saya menduga mereka merusak ventilasi dengan mengergaji bekas las dan paku terali besi malam itu," jelas Aksom.

Kepada Fajar Aksom menjelaskan bahwa gergaji tersebut diduga dibawa oleh pendamping tahanan saat pulang usai membeli bahan makanan di pasar. "Mungkin saja saat pendamping mau ke pasar, mereka meminta dibelikan juga gergaji besi," jelasnya.

"Pendamping itu bukan petugas kita. Dia hanya diberikan izin untuk membelikan makanan buat para petugas," imbuhnya. Aksom berjanji akan segera mengusut kasus ini, termasuk memintai keterangan para pihak diketahui telah berinteraksi dengan para tahanan.

Pantauan Fajar, konstruksi dan model bangunan Rudenim Bolangi memang memungkinkan tahanan untuk melarikan diri dengan leluasa. Bangunannya tidak sekokoh dan setinggi serta setertutup rumah tahanan lainnya.

Hal itupun diakui Aksom. Menurutnya, konstruksi bangunan Rudenim Bolangi memang tidak diperuntukkan bagi tahanan imigran. "Kalau bagi kita, konstruksi Rudenim ini mungkin sudah kuat. Tapi bagi mereka yang bertenaga dan berbadan besar, (konstruksi) ini tidak ada apa-apanya," ujarnya.

Tiga Tertangkap

Aksom menjelaskan, begitu mengetahui ada tahanan yang kabur, pihaknya langsung melakukan pencarian. Pengejaran dilakukan dengan menggandeng aparat Polresta Gowa. Alhasil, tiga imigran asal Asia Timur tersebut berhasil diamankan malam tadi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum (Depkum) HAM Sulsel, Lukmanardi yang dikonfirmasi malam tadi, membenarkan telah diamankannya kembali tiga imigran Afghanistan yang sebelumnya ikut melarikan diri. "Pengejaran masih terus dilakukan. Sudah tiga orang yang berhasil ditangkap kembali," ungkap Lukmanardi saat dikonfirmasi pukul pukul 20.30 Wita.

Dia menegaskan, untuk mencegah para tahanan itu kabur dari Makassar bahkan keluar negeri, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak pelabuhan hingga penerbangan untuk melakukan pengawasan terhadap warga Afghanistan yang telah melarikan diri itu.

"Semua akses untuk melarikan diri keluar dari Makassar telah kita awasi. Sekalipun mereka melarikan diri pagi tadi, namun saya masih yakin puluhan orang itu masih berada di sekitar Makassar," ujar Lukmanardi.

Saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Lukmanardi menegaskan sangat kecewa dengan kinerja petugas Rudenim, terkhusus yang melakukan penjagaan pada malam kejadian. Menurutnya, aksi puluhan warga Afghanistan itu semestinya tidak perlu terjadi, jika aparat terkait melakukan antisipasi dengan baik terhadap para tahanan.

Soal dugaan adanya unsur kesegajaan yang dilakukan pegawai Rudenim, Lukmanardi menegaskan pihaknya akan melakukan penelusuran terhadap dugaan adanya keterlibatan orang dalam. "Benar tidaknya ada orang dalam terlibat, saya belum bisa pastikan. Besok (hari ini, red) baru saya menelusurinya," ucap Lukmanardi.

Dia hanya berani memastikan bahwa 30 warga Afghanistan yang kabur dari tahanan dengan cara merusak selnya, merupakan salah satu bentuk kelalaian yang dilakukan pegawai Rudenim. "Sudah jelas kejadian ini akibat kelalaian petugas. Masa 30 orang bisa kabur tanpa diketahui sama sekali," tegasnya.

Karenanya, dia menegaskan bahwa kejadian yang memalukan itu tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja. "Pasti ada sanksinya. Tidak mungkin ini dibiarkan," ujarnya. Memang, imbuh Lukmanardi, personel yang mengawasi Rudenim Bolangi masih minim. "Tapi, itu tidak harus menjadi alasan tahanan bisa kabur," tandasnya. (eka-sah-tir)





0 komentar: