Welcome to Blog na tu GOWA...*** Dikelola jurnalis Gowa, orang Gowa, dan mereka yang peduli terhadap Gowa ***Kami menerima tulisan/opini/artikel/saran/kritik/kritik tentang GOWA, karena Gowanu, Gowaku, Gowata. Kami berhak tidak menerbitkan tulisan dengan berbagai pertimbangan. Terima Kasih *** Kirimkan tulisan/artikel/opini ke tugowa.news@gmail.com
CARA MENDAPATKAN UANG GRATIS
Perasaan anda ketika melihat judul di atas, sama dengan yang saya rasakan pertama kali mendengar dan melihat PTC (Paid to Click) atau mendapatkan uang dari Online di Internet. Tapi ketika saya mencoba atas anjuran teman ternyata bener… dapat uang sungguhan.
Saya akan berbagi caranya agar anda dapat mencobanya sendiri sehingga anda dapat membuktikannya, lagian gak rugi nyobak, soalnya GRATIS. Bagi anda yang belum daftar cukup klik Gambar IDR-CLICKIT di atas.
untuk mendaftar juga bisa ikuti link: http://www.idr-clickit.com/register.php/uttha.html
(lihat bukti pembayarannya: http://www.nugie.web.id/tag/idr-clickit)
12/25/2008 10:29:00 PM

Kisah Pilu Penderita Tumor Pipi

Diposting oleh tuGOWA

Sitti Dg Siang, Tercatat Peserta Jamkesmas, 2 Kali Gagal Operasi


MEMILIKI penyakit tumor ganas pada pipi, tidak pernah menjadi pilihan Sitii Dg. Siang, 55. Namun ia harus tetap menjalaninya. Itulah suratan nasib.

Tidak pernah dibayangkan Sitti Dg. Siang, 55, warga Dusun Parassui, Desa Timbuseng, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa akan mengalami nasib yang sangat menyedihkan lantaran penyakit tumor yang menggerogoti pipi kanannya. Padahal enam bulan sebelum penyakit itu mampir di wajahnya, Sitti Dg. Siang menjalani hidup secara normal.

Perkenalan Dg. Siang, dengan penyakit tumor berawal dari sakit kepala. Selama berminggu-minggu ia merasakan sakit kepala yang tidak menentu. Terkadang kadang di sebelah kanan bagian kepalanya, kadang juga pada bagian kiri di bawah kepalanya. Setelah sembuh dari sakit kepala yang tidak menentu, Dg. Siang kembali merasakan sakit di rahang sebelah kanannya.

Awalnya, Dg. Siag hanya mengira ia sakit gigi atau pun gusi biasa. Hingga diobati pun secara tradisional. Namun semakin hari, sakit pada rahang kanan tersebut tidak kunjung mereda. Bahkan, mulai memperlihatkan pembengkakan. Kian sakit, rahang kanan Dg. Siang kian membengkak.

Jera dengan rasa sakit dan pengobatan tradisional, Dg. Siang kemudian berobat ke puskesmas Pattallassang. Ia berobat didampingi anaknya. Namun belum sempat mengetahui secara jelas jenis penyakitnya, pihak puskesmas memberi Dg. Siang rujukan ke RSU Syekh Yusuf di Sungguminasa. Di rumah sakit umum itu pula, Dg. Siang lagi-lagi mendapat perlakuan yang sama, ia tidak diobati, hanya kembali mendapat surat rujukan ke RSUD Wahidin Sudirohusodo.

“Di rumah sakit Wahidin, baruka diobati, terus petugasnya di sana, suruh saya rawat jalan,” kata Dg. Siang terbata sambil memegang pipi kanannya, yang kini membengkak, memperlihatkan guratan urat syaraf, saat ditemui di rumahnya, Rabu, 24 Desember.

Selang satu minggu berobat jalan, Dg. Siang dianjurkan oleh tenaga media di RSUD Wahidin untuk dioperai saja. Susunan jadwal dan penanganan operasi yang harus ditempuh Dg. Siang sudah ditetapkan pihak RSUD Wahidin. Lalu kemudian ia dimintai dana pembelian alat untuk operasi Rp 3 juta.

Merasa memiliki kartu jamkesmas, Dg. Siang dengna bangga menunjukkan kartu tersebut, dengan harapan dapat dioperasi dengan tidak gratis dan terbebas dari penyakit tumor yang dideritanya selama beberapa bulan. Namun sayang, harapan tinggal harapan, kartu jamkesmas nomor PPK.18030802 yang dimiliki Dg. Siang bukanlah kartu “ajaib” yang dapat mewujudkan semua mimpinya.

“Orang di rumah sakit bilang kartu itu tidak bisa digunakan untuk biaya operasi, hanya untuk biaya opname. Biaya operasi tetap harus dibayar Rp 3 juta, untuk pembelian alat,” tutur Dg. Siang.

Akhirnya dengan menelan ludah pahit, Dg. Siang kembali pulang dengan harapan hamya. Ia berusaha tegar, dan kembali beristirahat di rumah anaknya, yang berukuran 4x 7 meter persegi di Dusun Pa'bundukang, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang.

Memasuki enam bulan, penyakit Dg. Siang semakin parah. Tidak tega melihat kondisi sang ibu, timan Dg. Sangnging, 30 membawa ibunya ke RSU Labuang Baji, Makassar dengan harapan kartu jamkesamas ibunya lebih berharga dan bisa segera mendapat perawatan medis. Sedikit harapan terbesit, pihak rumah sakit memberikan tempat.

Dg. Siang dirawat intensif dengan opname selama 10 hari. Sehingga pada akhir bulan November 2008, jadwal operasi kembali diberikan ke Dg. Siang. Berbekal hal itu, Dg. Siang sangat merasakan kegembiraan. Tapi lagi-lagi harus kandas karena biaya. Dg. Siang dimintai dana Rp 12 juta untuk biaya operasi.

“Salah satu dari dokter di sana bilang, yang ditanggung jamkesmas hanya biaya kamar,” papar Sattu dg Sija, 33 suami dari Timan dg Sangnging.

Sakit hati dan kekecewaan yang mendalam sangat dirasakan keluarga Dg. Siang. Dengan berlinang air mata, Dg. Sangnging mengatakan pihaknya meminta perhatian dari Bupati Gowa, Ichsan yasin Limpo untuk mengurusi ibunya. Ia juga menitip pesan pada Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo untuk memberinya bukti akan janji kesehatan gratis pada saat ia kampanye di Pilkada gubernur lalu.

“Manami janjinta pada saat kampanye kesehatan gratis, ammakku eromi ni operasi natena doekku kodong, jari kuerangi motero riballakku (mana janji bapak Gubernur. Ibuku kini mau operasi tapi tidak bisa karena tidak ada biaya. Sehingga kubawa pulang kembali ke rumah,” kata Dg. Sangnging.

“Kukana punna nia kartu jamkesmas tenaja nibayara jari kuerangi mange riballagarringa, manami janjita Pak Gubernur (Saya kira dengan kartu jamkesmas, kita tidak akan mengeluarkan biaya berobat di rumah sakit, mana pembuktian janji Pak Gubernur ), " pungkas Dg. Sangnging sembari mengusap air matanya.(mimi.naval@gmail.com/tugowa.news@gmail.com)

0 komentar: