PEMERINTAH Gowa saat ini sangat serius memperhatikan pergerakan sedimen akibat runtuhnya kaldera bawakarang 2004 lalu. Saat ini, kata Bupati H Ichsan YL, sekitar 67 juta kubik sedimen yang belum turun namun sudah bergerak. Sementara yang sudah masuk di waduk Bilibili sudah hampir 62 juta kubik. Dan yang masih tertinggal di kaldera bawakaraeng sekitar 130 juta kubik.
"Kalau itu tidak cepat ditangani maka akan menjadi potensi bencana jebolnya waduk," sela Kepala Infokom, H Zainuddin Kaiyum seraya mengatakan diperkirakan dibutuhkan bantuan dana kurang lebih Rp26 triliun.
Berdasarkan temuan Komisi V DPR RI belum lama ini, bendungan Bilibili itu salah perencanaan begitu pua dengan bangunan Sabodam yang ternyata tidak bisa mengatasi antisipasi longsoran bawakaraeng. "Tidak ada perhitungan matang sehingga proyek ini kesannya mubasir," tambah Zainuddin Kaiyum.
"Karena itu masyarakat yang ada di catsman area harus hati-hati.
seperti halnya di Desa Taring, di Biringbulu. Dengan adanya 2 Km sedimen lumpur yang bergerak kini maka masyarakat harus dievakuasi ke tempat yang aman dan dititip di rumah keluarganya di dusun yang lebih aman," kata Bupati.
Bupati juga berharap seluruh masyarakat untuk melihat tingginya curah hujan yang hampir tiga kali lipat dari tahun 2008, sehingga wilayah Gowa cenderung cukup bisa memberi masalah.
"Bagi yang tinggalkan tempat tinggalnya harus melaporkan diri ke pemerintah masing-masing. Saya juga imbau dan anggap ini permintaan saya kepada semua rakyat untuk bisa berdoa setiap sujud terakhir shalat agar Gowa terhindar dari bencana," kata Bupati.(saribulan/beritakotamakassar.com)
Dari Kasus Keracunan hingga Dugaan Korupsi, Pemerintah Diminta Evaluasi
Total Program MBG
-
Menyelamatkan program MBG tidak boleh diartikan sebagai pembenaran terhadap
seluruh kebijakan yang selama ini dijalankan Badan Gizi Nasional (BGN).
2 jam yang lalu







0 komentar:
Posting Komentar