Welcome to Blog na tu GOWA...*** Dikelola jurnalis Gowa, orang Gowa, dan mereka yang peduli terhadap Gowa ***Kami menerima tulisan/opini/artikel/saran/kritik/kritik tentang GOWA, karena Gowanu, Gowaku, Gowata. Kami berhak tidak menerbitkan tulisan dengan berbagai pertimbangan. Terima Kasih *** Kirimkan tulisan/artikel/opini ke tugowa.news@gmail.com
CARA MENDAPATKAN UANG GRATIS
Perasaan anda ketika melihat judul di atas, sama dengan yang saya rasakan pertama kali mendengar dan melihat PTC (Paid to Click) atau mendapatkan uang dari Online di Internet. Tapi ketika saya mencoba atas anjuran teman ternyata bener… dapat uang sungguhan.
Saya akan berbagi caranya agar anda dapat mencobanya sendiri sehingga anda dapat membuktikannya, lagian gak rugi nyobak, soalnya GRATIS. Bagi anda yang belum daftar cukup klik Gambar IDR-CLICKIT di atas.
untuk mendaftar juga bisa ikuti link: http://www.idr-clickit.com/register.php/uttha.html
(lihat bukti pembayarannya: http://www.nugie.web.id/tag/idr-clickit)
2/04/2009 11:56:00 PM

Waduk Bilibili Lampaui Tampungan Mati

Diposkan oleh tuGOWA

SUNGGUMINASA (SINDO)-Tingginya volume sedimentasi Bawakaraeng yang masuk ke bendungan Bili-Bili menyebabkan kondisi waduk telah melampaui tampungan matinya.

Diketahui volume sedimentasi waduk yang dibangun tahun 1992 dengan mengambil lokasi enam desa dari dua kecamatan di Kabupaten Gowa itu sudah mencapai 62 juta M3 sementara tampungan mati (dead storage) hanya 29 juta M3.

"Tapi jangan dibayangkan full sedimen, karena kapasitas maksimal bisa 375 juta M3. Posisi imtake (sumber air) juga masih aman. Tapi saya tidak mau mengatakan bahwa satu
waktu waduk itu tidak bermasalah,"ungkap Pemimpin Pelaksana Kegiatan Sedimentasi Bawakaraeng Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Pompengan Jeneberang Haeruddin kepada SINDO di Makassar.

Apalagi saat ini, ada 140 juta M3 yang meluncur turun sepanjang sungai Jeneberang sampai sepanjang waduk, sementara yang bisa dikendalikan hanya 80 juta M3. Sisanya sekitar 7 juta m3 langsung ke laut.

"Makanya kita berharap lumpur ini bergerak secara perlahan tidak secara sekaligus. Sebab teknologi apapun tidak bisa menangkap 140 juta M3 lumpur sekaligus. Hanya tangan Tuhan,"urainya.

Haeruddin menuturkan, melihat jumlah sedimen yang terus bergerak dan bahaya sedimen yang sewaktu-waktu bisa datang, sebenarnya Gunung Bawakaraeng jauh lebih serius daripada Gunung Merapi yang setiap letusan hanya diprediksi sekitar 10 juta meter kubik.

Posisi Sedimen Bawakaraeng sendiri yang terbesar kedua di dunia setelah Teteyama di Jepang. Meski demikian, sebagai bentuk antisipasi mengatasi laju sedimen, pihaknya sudah membangun lagi dua buah sabodam secara series di atas bangunan sabodam 72 dan 73. Kemudian, satu sabo multipurpouse yang juga berfungsi sebagai jembatan, plus dua bangunan groundsill di Sungai Daraha Kecamatan Parigi.

Di bagian hilir juga dibangun dua jembatan penyeberangan (CD- 1 dan CD-2) sebagai akses masyarakat yang bermukim pada beberapa desa di sebelah kiri Sungai Jeneberang.
Selain itu juga dilakukan pengerukan lumpur (sedimen) sekitar 2,5 juta meter kubik di muara sungai dekat Waduk Bilibili.

Dengan cara ini kata dia, diharapkan mampu memperpanjang umur waduk yang difungsikan sebagai irigasi, suplai air baku, dan tentu saja menjalankan fungsi utamanya mencegah banjir di Kota Makassar dan sekitarnya akibat luapan Sungai Jeneberang di bagian hilir.

"Apa yang kita buat ini bersifat darurat dan berusaha menormalkan posisi sedimen pada Jeneberang yang kondisinya juga sudah akut ,"katanya.

Dalam kesempatan itu Haeruddin kembali mengimbau warga yang bermukim di Lengkese Desa Manimbahoi Kecamatan Parigi berhati-hati akan kemungkinan datangnya banjir debris (lumpur dan batu) dari waduk alam yang terbentuk pascalongsoran Bawakaraeng.

"Selain volume hujan yang tinggi yang mencapai 165,5 mm dari curah normal 70 mm, letak waduk-waduk itupun persis di hulu Jeneberang. Jadi jauh lebih baik waspada
saja,"tandasnya(herni amir/seputar-indonesia.com)


0 komentar: