Welcome to Blog na tu GOWA...*** Dikelola jurnalis Gowa, orang Gowa, dan mereka yang peduli terhadap Gowa ***Kami menerima tulisan/opini/artikel/saran/kritik/kritik tentang GOWA, karena Gowanu, Gowaku, Gowata. Kami berhak tidak menerbitkan tulisan dengan berbagai pertimbangan. Terima Kasih *** Kirimkan tulisan/artikel/opini ke tugowa.news@gmail.com
CARA MENDAPATKAN UANG GRATIS
Perasaan anda ketika melihat judul di atas, sama dengan yang saya rasakan pertama kali mendengar dan melihat PTC (Paid to Click) atau mendapatkan uang dari Online di Internet. Tapi ketika saya mencoba atas anjuran teman ternyata bener… dapat uang sungguhan.
Saya akan berbagi caranya agar anda dapat mencobanya sendiri sehingga anda dapat membuktikannya, lagian gak rugi nyobak, soalnya GRATIS. Bagi anda yang belum daftar cukup klik Gambar IDR-CLICKIT di atas.
untuk mendaftar juga bisa ikuti link: http://www.idr-clickit.com/register.php/uttha.html
(lihat bukti pembayarannya: http://www.nugie.web.id/tag/idr-clickit)
4/03/2009 10:53:00 PM

Bendung Benteng di Pinrang Lebih Rawan

Diposkan oleh tuGOWA

* Bendungan Serbaguna Bilibili Relatif Aman

Sungguminasa, Tribun - Kekhawatiran terhadap masyarakat terhadap Bendungan Serbaguna Bilibili pascabobolnya Tanggul Situ Gintung di Tangerang, Banten, bisa dikikis secara perlahan. Bendungan yang konstruksi selesai dibangun tahun 1997 lalu relatif masih aman.

Justru yang patut diwaspadai di Sulawesi Selatan (Sulsel) adalah Bendung Gerak Benteng di Kecamatan Patampanua, kurang lebih 20 kilometer utara Kota Pinrang, Kabupaten Pinrang. Konstruksi bendung pengangkat air tersebut dinilai rawan jebol.

"Kalau Bendungan Bilibili itu masih lebih aman dari Tanggul Situ Gintung. Konstruksinya berbeda. Yang patut dikhawatirkan di Sulsel yakni Bendung Gerak Benteng di Pinrang," jelas Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Isprasetya Basuki, saat dikonfirmasi terkait Bilibili di ruang kerjanya, Jumat (3/4).

Dijelaskan, kerawanan pada Bendung Benteng karena usianya sudah cukup tua. Pada bendung itu juga tidak terdapat alat untuk memonitor kondisi pondasi yang dikhawatirkan mulai mengeropos.

Bendung Gerak Benteng dibangun pada zaman Pemerintahan Belanda sekitar tahun 1930- an. Dari beberapa laporan yang diterima, ungkapnya, kalau mobil melintas, maka terasa bendung bergetar.

"Meskipun konstruksinya dari pasangan batu dan beton tetapi dibangun zaman Belanda 1930," jelasnya.

Bendung gerak tersebut, ungkap Isprasetya, dibangun untuk menaikkan air guna irigasi. bendung itu mengairi sekitar 60 ribu hektare. Kalau sampai colaps maka akan membanjiri daerah hilir dan berdampak pada keringnya areal persawahan di daerah itu.

Tim Investigasi
BBWSPJ akan menurunkan tim untuk melakukan investigasi kestabilan Bendung Gerak Benteng. Salah satu metode digunakan adalah geolistrik untuk mengecek kerusakan di pondasi.

Sebab jika telah rusak dan kehilangan fungsi, maka sulit dilakukan perbaikan.(ute)

kondisi bendungan
* Bendung Gerak Benteng di Pinrang
- Dibangun pada sekitar tahun 1930-an, zaman Belanda
- Berfungsi menaikkan air untuk irigasi sekitar 60 ribu hektare sawah
- Kondisi sudah rawan dan tidak ada alat monitoring kondisi bangunan
* Bendungan Serbaguna Bilibili di Gowa
- Selesai dibangun tahun 1997
- Relatif masih aman dari segi konstruksi
- Memiliki alat monitoring guna memantau kondisi bangunan
- Endapan lumpur halus yang masuk ke bendungan membantu memperkuat konstruksi bendungan

Endapan Lumpur Memperkuat Konstruksi Bendungan
SEMENTARA itu, kondisi Bendungan Bilibili yang berada di Kabupaten Gowa relatif masih sangat aman. Pembangunan sudah diperhitungkan untuk getaran dan berkonstruksi rock fiil dam atau memiliki filter di tengahnya.

Juga terdapat lapisan cor (kedap) yang memperfungsi memperlambat jalan air yang membawa butiran yang membahayakan jika terdapat rekahan. Namun, endapan longsoran yang masuk ke bendungan yang sangat halus malah membantu memperkuat konstruksi bendungan.

Endapan halus itu, kata Isprasetya, akan menutupi retakan sehingga menjadikannya lebih tahan lama. Pada bendungan itu juga terdapat alat untuk memonitor kondisi. Sehingga yang akan dikaji sistem pengawasannya agar lebih ketat.

"Kondisi terakhir, endapan masih pada titik elevasi +162 DPL (di atas permukaan laut), masih sangat aman. Kalaupun terjadi luapan tidak akan seperti Situ Gintung yang memang terbuat dari tanggul tanah murni," jelas Isprasetya.(ute/tribun-timur.com)

0 komentar: