Welcome to Blog na tu GOWA...*** Dikelola jurnalis Gowa, orang Gowa, dan mereka yang peduli terhadap Gowa ***Kami menerima tulisan/opini/artikel/saran/kritik/kritik tentang GOWA, karena Gowanu, Gowaku, Gowata. Kami berhak tidak menerbitkan tulisan dengan berbagai pertimbangan. Terima Kasih *** Kirimkan tulisan/artikel/opini ke tugowa.news@gmail.com
CARA MENDAPATKAN UANG GRATIS
Perasaan anda ketika melihat judul di atas, sama dengan yang saya rasakan pertama kali mendengar dan melihat PTC (Paid to Click) atau mendapatkan uang dari Online di Internet. Tapi ketika saya mencoba atas anjuran teman ternyata bener… dapat uang sungguhan.
Saya akan berbagi caranya agar anda dapat mencobanya sendiri sehingga anda dapat membuktikannya, lagian gak rugi nyobak, soalnya GRATIS. Bagi anda yang belum daftar cukup klik Gambar IDR-CLICKIT di atas.
untuk mendaftar juga bisa ikuti link: http://www.idr-clickit.com/register.php/uttha.html
(lihat bukti pembayarannya: http://www.nugie.web.id/tag/idr-clickit)
10/16/2009 09:26:00 PM

Berutang di Koperasi, IRT Nekat Bunuh Diri

Diposkan oleh tuGOWA

SUNGGUMINASA -- Astuti, 34, warga Jalan Palantikang, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Gowa nekat melakukan aksi bunuh diri dengan cara membakar tubuhnya. Ibu Rumah Tangga (IRT) itu membakar badannya, Kamis, 15 Oktober, sekira pukul 09.00 Wita.

Dia terlebih dahulu menyiram seluruh tubuhnya dengan minyak tanah lalu disulut api. Hanya dalam sekejap kulitnya melepuh dan terbakar. Beruntung nyawa Astuti tertolong setelah tetangga memadamkan api di tubuh korban.

Astuti yang ditemui di kediamannya mengaku, terpaksa ingin mengakhiri hidupnya karena terhimpit ekonomi keluarga. Di samping sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka juga dibebani utang.
Sejak suaminya, Nakir, 38, divonis harus istirahat total beberapa bulan terakhir karena gangguan fungsi tulang, Astuti akhirnya menjadi tumpuan mencari uang dengan bekerja sebagai binatu atau mencuci pakaian di rumah orang lain.
Suami-istrinya memiliki dua anak, yaitu Angga, 6, dan Arlan, 2. "Kalau kondisi kesehatan saya membaik, saya kadang pergi bekerja sebagai buruh bangunan," ujar Nakir. Penghasilan yang tidak menentu membuat keluarga Nakir kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan juga untuk membayar biaya kontrak rumah. "Kami akhirnya meminjam uang koperasi di Sungguminasa. Sebagian kami pakai untuk membeli televise, sebab kasihan anak-anak kalau mau nonton harus menumpang terus di rumah tetangga,” tambah Nakir.

Dari pinjaman koperasi, mereka membayar angsuran Rp 150 ribu per bulan. Ironisnya, berselang beberapa bulan proses cicilan berjalan, keluarga Nakir tidak mampu membayar cicilan hingga akhirnya menunggak. "Rabu, petugas koperasi datang menagih. Kami belum bisa bayar. Penagih mengancam akan membawa polisi bila kami tidak bayar lagi bulan ini. Istri saya sangat stres, sebab setelah mencoba cari pinjaman dia tapi tidak dapat," urainya.

Setelah pulang dari usaha terakhir mencari pinjaman, sikap Astuti sudah berubah. Dia sering merenung sembari menggendong anaknya. Puncaknya masuk ke dapur, mengambil kompor dan menumpahkan isi minyak tanah ke badan dan membakar dirinya.

"Saya tahu kejadian ini setelah anak saya Angga berteriak histeris melihat mamanya sudah terbakar," tutur Nakir dengan suara terbata-bata. Nakir mengaku sangat terkejut, meski sedang sakit di pembaringan, sontak dia langsung berdiri memeluk anaknya dan berteriak minta tolong pada tetangganya.

Akibatnya, leher, bibir, dada, kedua lengan, sebagian kaki dari Astuti melepuh. Ironisnya, Astuti tidak mendapatkan pertolongan medis lantaran tidak memiliki biaya. "Saya tidak bawa ke rumah sakit karena tidak ada uang," ucap Nakir seraya menunduk.

Dari pantauan Fajar, Astuti hanya diberi pengobatan tradisional dengan menggunakan batang dan daun pisang yang ditebas dari sekitar rumahnya untuk menghilangkan rasa perih dari kulit yang melepuh. (rhd)


0 komentar: