Welcome to Blog na tu GOWA...*** Dikelola jurnalis Gowa, orang Gowa, dan mereka yang peduli terhadap Gowa ***Kami menerima tulisan/opini/artikel/saran/kritik/kritik tentang GOWA, karena Gowanu, Gowaku, Gowata. Kami berhak tidak menerbitkan tulisan dengan berbagai pertimbangan. Terima Kasih *** Kirimkan tulisan/artikel/opini ke tugowa.news@gmail.com
CARA MENDAPATKAN UANG GRATIS
Perasaan anda ketika melihat judul di atas, sama dengan yang saya rasakan pertama kali mendengar dan melihat PTC (Paid to Click) atau mendapatkan uang dari Online di Internet. Tapi ketika saya mencoba atas anjuran teman ternyata bener… dapat uang sungguhan.
Saya akan berbagi caranya agar anda dapat mencobanya sendiri sehingga anda dapat membuktikannya, lagian gak rugi nyobak, soalnya GRATIS. Bagi anda yang belum daftar cukup klik Gambar IDR-CLICKIT di atas.
untuk mendaftar juga bisa ikuti link: http://www.idr-clickit.com/register.php/uttha.html
(lihat bukti pembayarannya: http://www.nugie.web.id/tag/idr-clickit)
11/02/2010 07:59:00 AM

Dishutbun Segera Selamatkan Lahan Terbuka

Diposkan oleh tuGOWA

GOWA, BKM—Pasca longsor Esere di Desa Tonrorita, Kec. Biringbulu beberapa hari lalu yang menelan dua korban jiwa, dua kakak beradik Muis (20) dan Syarif (17) membuat sejumlah kalangan mulai menyinggung soal kondisi lahan di wilayah perbatasan Kab. Jeneponto ini.
Pasalnya, beratus-ratus hektare lahan di kecamatan pemekaran Kec. Tompobulu itu, terbuka (tidak ada pepohonan). Lahan-lahan itu didominasi sebagai ladang jagung masyarakat setempat. Hampir semua lereng, tebing dengan kemiringan lebih, hanya dihiasi lahan tanaman jagung. ‘’Ini sangat mengkhawatirkan. Jika lahan terbuka ini tidak segera dipikirkan penyelamatannya, maka yakin saja, sepuluh tahun ke depan Biringbulu akan habis ditimbun longsor,’’ kilah Himyar Salim, Ketua LSM Karaeng Lompo Gowa.
Dikatakan pemerhati lingkungan ini, ada saja pepohonan yang berakar kuat mampu menahan air jika hujan, kerap longsor tidak terelakkan, apalagi jika tak satupun pohon penahan air tumbuh.
Secara terpisah, Senin (1/11) kemarin, Kadis Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Gowa, H Djamaluddin Maknun kepada BKM membenarkan jika lahan terbuka sudah hampir mendominasi di area lereng gunung di wilayah Biringbulu. Hal itu disebabkan, masyarakat mengandalkan komoditas jagung kuning sehingga banyak lahan hutan dibabat untuk dijadikan ladang jagung.
‘’Ini sebuah dilema. Di sisi lain, kita harus cermati kondisi lahan hutan yang semakin hari kian berkurang areanya. Di lain pihak, kita harus berpikir bijak menyikapi pola hidup masyarakat yang ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara mudah melalui bertanam jagung. Penyebab longsor bukan hanya karena lahan yang gundul tapi bisa juga karena adanya pergeseran tanah. Namun jika hujan terus mengguyur, maka lahan gundul itu paling peka,’’ jelas kadis seraya mengakui di Biringbulu lahan terbuka (tidak ada pepohonan) mencapai ratusan hektare.
Diakui Djamaluddin, penanaman jagung ini merupakan satu satu tantangan program penghijauan. Untuk mengatasi dilema ini, sebagai solusinya menurut Djamaluddin, pihaknya (Dishutbun) segera melakukan penyelamatan lahan terbuka tersebut, dengan penanaman jutaan batang pohon untuk semua lahan terbuka di Kab. Gowa, termasuk Biringbulu.
Untuk tahun ini, kata Djamaluddin disiapkan 1,7 juta batang pohon (tahap pertama) untuk mengatasi lahan terbuka atau kritis di Gowa yang mencapai 26 ribu hektare tersebut (dalam kawasan hutan sekitar 17 ribu hektare, di luar kawasan sekitar 9.000 hektare). 300 ribu batang pohon jenis sengon dan 500 ribu batang pohon kakao akan dialokasikan untuk Biringbulu.
‘’Sekarang yang kita pikirkan menciptakan agroforestry (pengembangan kawasan hutan yang menguntungkan). Bagaimana mengajak masyarakat di wilayah ketinggian untuk mengganti tanaman musimannya (jagung) dengan tanaman jangka panjang yang prosfeknya jauh lebih cerah (jenis kayu-kayuan. Kita ajak masyarakat berpikir membandingkan pendapatannya dari tanaman jagung Rp 24 juta per 8 tahun dengan Rp 280 juta hasil dari produksi tanaman kayu-kayuan selama 8 tahun. Tapi perbandingan itu mungkin tidak bisa dilakukan oleh masyarakat karena mereka butuh makan setiap hari dari hasil panenan jagung itu. Makanya kita rencanakan tahun ini dalam bentuk tumpang sari (jagung, kakao dan sengon),’’ terang kadis.
Dijelaskan kadis, pola tanam tumpang sari diharapkan dapat berjalan sukses sehingga masyarakat tidak sampai kehilangan tanaman jagungnya. ‘’ Untuk perhektare lahan kritis, kita akan tanami dengan 800 ribu tanaman kayu dan 800 ribu tanaman kakao. Dari penanaman kayu-kayuan ini, sambil menunggu hasilnya, warga bisa tanam jagungnya. Ya jika dihitung, pada tahun pertama, petani nikmati jagungnya, tahun ketiga mulai nikmati hasil produksi (buah) dan tahun kelima, petani sudah nikmati kayu-kayunya,’’ katanya.
Pola tumpang sari sengon (albizia) dengan kakao (coklat) dengan jangka waktu pengelolaan 8 tahun dengan pola jarak tanam kakao 5x3 meter dengan populasi 666 pohon per hektare (pendapatan bersih per hektare per tahun Rp 49.313.125) dan untuk sengon jarak tanam 5x3 meter populasi 666 pohon per hektare (pendapatan bersih per hektare per bulan Rp 4.109.000). (Sar)

0 komentar: